Daerah  

Bina Rohani di Lapas Kelas IIA Mataram

Dari kiri: Kalapas Kelas IIA Mataram, Pedanda Sebali dan Arditha dengan background kegiatan bina rohani
banner 120x600

Wordly.id | NTB – Pembinaan kerohanian jadi salah satu prioritas di Lembaga Pemasyarakatan atau Lapas Kelas IIA Mataram. Penggemblengan mental spiritual bagi para narapidana (napi) dan tahanan, terus dilakukan sebagai bekal para napi setelah menghirup udara kebebasan.

Kepala Lapas Kelas IIA Mataram Ketut Akbar Herry Achjar, A.Md.I.P., S.H., M.H., Jumat (19/8/2022) pagi, mengatakan bahwa kegiatan pembinaan kerohanian tersebut rutin dilakukan sebgai bagian dari upaya penyadaran.

“Bina rohani merupakan bagian dari program wajib bagi semua Warga Binaan Lapas (WBP, red) khususnya di Lapas Kelas IIA Mataram, baik itu WBP yang beragama Islam, Hindu, Budha maupun WBP yang Kristiani,” ungkapnya.

Dikatakan, terkait pembinaan kerohanian di Lapas Kelas IIA Mataram, secara terjadwal pihak Lapas mendatagkan tokoh agama (toga) untuk memberi siraman rohani kepada WBP.

“Kita rutin melaksanakan setiap harinya dan secara terjadwal kita datangkan tokoh agama dari luar, yang muslim kita datangkan Tuan Guru atau Ustadz, untuk yang Kristen kita undang Bapak Pendeta begitu pula bagi WBP beragama Budha,” jelas Ketut Akbar.

“Bagi WBP yang beragama Hindu juga sama, kita datangkan Pedanda, seperti hari Jumat ini jadwal untuk yang beragama Hindu,” imbuhnya.

Senada, Bagian Registrasi Lapas Kelas IIA Mataram I Gede Arditha selaku Ketua Pure Lapas mengungkapkan, terkait pembinaan kerohanian dilaksanakan setiap untuk semua WBP, dimana pihak Lapas juga telah menyiapkan fasilitas.

“Persembahyangan itu setiap hari dan kita pusatkan di hari Jumat secara berkala atau bergantian, seperti Jumat ini ada kegiatan Dharma Wacana bagi WBP Hindu. Hari Jumat kita ambil dengan alasan kunjungan agak sedikit,” katanya.

Menurut Arditha, kegiatan kerohanian yang menjadi program di Lapas Kelas IIA Mataram itu, diharapkan dapat memberikan dampak positif kepada para WBP.

“Kita berharap dengan kegiatan kerohanian ini para narapidana (napi, red) dan tahanan bisa berubah, dari sebelumnya tidak atau kurang baik sehingga menjalani hukuman di sini, dengan adanya kegiatan kerohanian mereka sadar dan menjadi orang baik sekeluarnya dari sini,” ujarnya.

Ditemui usai memberi pembinaan kerohanian Dharma Wacana bagi WBP beragama Hindu, Ida Pedanda Gede Made Bwana Raksa Sebali Waisnawa didampingi Humas Parisada Hindu Dharma Indonesia Pemurnian (PHDI-P) NTB I Made Sanakumara, menyampaikan bahwa menjadi napi bukan alasan berhenti menghambakan diri kepada Tuhan yang Maha Esa.

“Setiap permasalahan yang dihadapi, intinya apapun kesalahan yang diperbuat sehingga menjadi narapidana, mau narkoba, asusila dan sebagainya, intinya dalam hal itu jangan juga membuat kita sulit ataupun berhenti, untuk berdoa kepada Hyang Widhiwasa atau Tuhan Yang Maha Esa,” tuturnya.

Pedanda Sebali menyebutkan, dalam berbagai kesempatan bertemu dengan umat Hindu di Nusa Tenggara Barat (NTB), pihaknya selalu mengingakan agar umat Hindu Indonesia tidak terpengaruh oleh pengaruh aliran sesat yang muncul akhir-akhir ini.

“Kita akan membentengi umat Hindu Nusantara dari serbuan aliran atau sekte Sampradaya yang sesat, yang dapat memecah belah persatuan umat Hindu dan bisa memporakporandakan keutuhan NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia, red). Aliran ini harus diwaspadai karena aliran atau sekte ini masuk ke semua agama dan kepercayaan,” tandasnya.

Sementara itu, Pedanda Sebali berharap pembinaan kerohanian yang ada di Lapas Kelas IIA Mataram dapat dipertahankan dan lebih ditingkatkan, termasuk program-program pembinaan lain yang telah dilaksanakan.

“Selain sebagai sarana saling mengingatkan, dengan pembinaan kerohanian ini kita berharap setelah para narapidana keluar dari sini mereka keluar dengan kesadaran rohani yang baik,” tutupnya.

Dari pantauan wordly.id, di waktu yang bersamaan dengan Dharma Wacana bagi WBP beragama Hindu itu, WBP beragama Islam (muslim) juga melaksanakan kegiatan Hataman al-Quran bersama, di Masjid Lapas yang terkoordinir dengan baik.

Tata cara yang diterapkan dalam hataman al-Quran itu dilakukan dengan membagi juzu’ al-Quran pada masing-masing WBP muslim. Dengan sistim hataman al-Quran tersebut, dapat dipastikan dalam setiap hataman akan ada sekian kali hatam al-Quran di Lapas Kelas IIA Mataram. (Djr/w-001)

Kegiatan hataman al-Quran WBP di Masjid Lapas Kelas IIA Mataram

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *