Daerah  

Peradah Indonesia Sampaikan Pesan Moral untuk Sengkarut PHDI

Ketua Umum DPN Peradah Indonesia Gede Ariawan
banner 120x600

Wordly.id | NTB – Ketua Umum Dewan Pimpinan Nasional Perhimpunan Pemuda Hindu (DPN Peradah) Indonesia, berharap kekisruhan yang terjadi di kepengurusan Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI), baik di tingkat Pusat maupun kepengurusan PHDI NTB diselesaikan dengan damai. Pesan moral itu disampaikan Ketum DPN Peradah Indonesia, Sabtu (19/3/2022), saat pelaksanaan Mahasabha XII Peradah Indonesia di Hotel Grand Legi Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB).

Ketum DPN Peradah Indonesia I Gede Ariawan didampingi Ketua DPP Peradah NTB I Gede Purnama M. Artha, di sela Mahasabha XII kepada awak media mengatakan bahwa kisruh di tubuh PHDI, agar diselesaikan di internal PHDI dengan damai.

“Kalau kami sebagai anaknya, kami tidak masuk di situ. Namun kami sebagai anak tentu berharap, diselesaikan saja lah di internal PHDI itu sendiri, selesaikan dengan damai dan penuh kearifan sebagai orang tua,” kata Ariawan.

Baca juga:

Mahasabha XII, Gede Ariawan Kembali Nahkodai DPN Peradah Indonesia

Tokoh-tokoh Umat Hindu Angkat Bicara Terkait Sengkarut PHDI NTB

Menurut Ariawan, harmonisasi dalam organisasi sangat diperlukan untuk membesarkan organisasi. Organisasi, lanjutnya, tidak akan pernah dapat berkembang dengan maksimal, tanpa persatuan dan kebersamaan organ-organ yang ada di dalam organisasi.

“Jadi kami mendorong supaya segera harmonis kembali, bersatu segera,” ucapnya.

Karena itu, dalam sambutannya saat terpilih kembali selaku Ketum DPN Peradah Indonesia, Ariawan kembali menegaskan dan mengingatkan terkait komitmen bersama Peradah Indonesia.

“Apa yang menjadi komitmen kita bersama harus kita usung bersama pula. Peradah mulai Pusat sampai kabupaten/kota harus senantiasa bergandengantangan, bahu-membahu, seiya-sekata untuk tujuan mulia kita,” ujarnya.

Ariawan menegaskan bahwa sebagai generasi milenial Hindu, Peradah Indonesia harus dapat memberikan solusi dalam setiap persoalan yang dihadapi umat Hindu, bukan ikut terjun memperkeruh suatu persoalan.

“Ini perlu diingat, kita selaku pemuda Hindu harus mampu dan berupaya menjadi pencerah, memberi pencerahan terhadap semua persoalan dan polemik yang terjadi di sekitar kita. Pun, jika diperlukan dan atau dibutuhkan oleh organisasi umat Hindu lainnya,” tegas Ariawan.

“Peradah tidak harus ikut dalam konflik dan polemik di tubuh organisasi lain, apalagi ikut memperkeruh suatu persoalan. Kita harus menunjukkan bahwa Peradah adalah pemuda-pemudi yang berintelektual dan berkarakter,” tutupnya.

Untuk diketahui, pernyataan Ketum DPN Peradah Indonesia itu disampaikan terkait sengkarut yang terjadi di tubuh PHDI. Dimana kisruh dualisme kepengurusan PHDI bukan saja terjadi di tingkat Pusat, namun hal yang sama juga berbias ke PHDI NTB.

Pasalnya, setelah ditetapkannya sebagai tersangka dalam kasus tindak pidana Informasi dan Transasksi Elekteonik (ITE), terhadap salah seorang oknum pengurus PHDI NTB berbuntut terbitnya Surat Keputusan (SK) PHDI Pusat, yang dalam SK tersebut dinyatakan pemberhentian oknum Pengurus PHDI NTB yang jadi tersangka kasus ITE.

Selain memberhentikan oknum pengurus, dalam SK PHDI Pusat itu juga menyebutkan mengangkat Pinandita Komang Rena, selaku Pejabat Sementara (Pjs) Ketua PHDI NTB. Sejak terbitnya SK tersebut kisruh di tubuh PHDI NTB kian memanas. Pinandita Komang Rena yang sebelumnya dipecat selaku Sekretris PHDI NTB, ditunjuk dan atau diangkat sebagai Pjs. Ketua yang kemudian ditentang Ketua PHDI NTB yang diberhentikan.

Pjs. Ketua Harian PHDI NTB yang akrab dengan sapaan Pinandita Mangku ditemui awak media di kediamannya, Selasa (22/3/2022) malam, mengapresiasi pernyataan dan atau pesan moral Ketum DPN Peradah Indonesia.

“Pernyataan yang disampaikan Peradah Indonesia itu sangat tepat, karena PHDI itu sendiri adalah wadah para orang tua mereka yang harus memberikan teladan, bukan hanya kepada Peradah yang notabene generasi muda tapi juga kepada umat Hindu secara umum,” ungkapnya.

Pinandita Mangku Rena juga berpesan khususnya kepada segenap kaum muda Hindu, yang tergabung dalam Peradah Indonesia agar problematika yang terjadi di tubuh PHDI, dapat dijadikan pengalaman dan edukasi dalam menyikapi suatu persoalan.

“Kondisi ini adalah pelajaran bagi Peradah itu sendiri sebagai regenerasi kepemimpinan masa depan, experience is the best teacher, pengalaman adalah guru yang terbaik,” ucap Pinandite Mangku.

Sementara terkait sengkarut di tubuh PHDI Pusat dan PHDI NTB, Mangku Rena mengatakan bahwa polemik yang terjadi berbeda satu sama lain.

“Kalau PHDI Pusat itu persoalannya lebih kepada permasalahan cara pengambilan keputusan dan kebijakan, dimana di PHDI menganut kolektif kolegial, keputusan didasarkan pada hasil musyawarah yang melibatkan para pihak,” jelasnya.

Menurutnya, persoalan yang dihadapi PHDI NTB terkait dengan Tri Kaya Parisudha, yang merupakan bagian dari ajaran susila dalam tiga kerangka dasar agama Hindu. Dimana di dalamnya terdiri dari tiga bagian Manacika Parisudha, Wacika Parisudha dan Kayika Parisudha.

“Manacika Parisudha adalah berfikir yang baik, Wacika Parisudha berarti berkata yang baik dan Kayika Parisudha yang artinya berprilaku yang baik. Nah, kalau tiga susila ini menjadi asusila atau dilanggar, maka seorang penganut Hindu sudah tidak pantas menjadi Parisada,” tandasnya.

Akankah pesan moral Ketua Umum Peradah Indonesia menjadi sugesti positif bagi PHDI?
Kita tunggu episode Sengkarut PHDI NTB selanjutnya. (Djr/w-001)

Pjs. Ketua Harian PHDI NTB Pinandita Komang Rena

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *