Daerah  

Plt Kadis Perpustakaan dan Kearsipan Kunjungi Desa Montong Terep

banner 120x600

Wor‎dly.id|Mataram, Lombok Tengah –  Plt Kadis Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), H. Amir kembali turun ke desa dengan Program PJ Gubernur terkait Jumat Salam (Jumpai Masyarakat Selesaikan Aneka Persoalan), Jumat (22/12/23), kegiatan Jumat Salam kali ini berlokasi di Desa Montong Terep, Kecamatan Praya, Kabupaten Lombok Tengah.

H. Abdul Majid selaku Kepala Desa Montong Terep atau Desa Bodag  menyambut hangat kedatangan Sekretaris Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) beserta Kepala Bidang Pelayanan, Kepala Bidang Pembinaan dan Kearsipan, dan para staff lainnya.

Desa Montong Terep merupakan salah satu desa yang dengan jumlah penduduknya yang cukup besar. Ada sebanyak 4.500 KK yang terdiri dari 11.100 jiwa yang tersebar di 16 dusun.

“Kami dari perangkat Desa Montong Terep, sangat mengapresiasi adanya Program Jumat Salam ini, dan kami berharap, dengan adanya program ini. Kami berharap penuh dengan adanya program ini, pemerintah setempat bisa lebih memperhatikan desa kami dan agar desa kami menjadi lebih maju lagi kedepannya”, ucap Kades.

Plt. Kadis Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi NTB menjelaskan jika kegiatan Jumat Salam ini merupakan kunci utama terbukanya pintu silaturahmi, sehingga diharapkan dengan program ini kita dapat menginventarisasi apapun yang dibutuhkan di Desa Montong Terep ini.

“Kedatangan kami dari Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi NTB tidak hanya terfokus pada perpustakaan dan kearsipan saja, akan tetapi tujuan kami berkunjung ke desa ini, berupaya menjadi jembatan antara desa dengan pemerintah setempat untuk mengatasi permasalahan-permasalahan yang ada baik dari aspek pendidikan, sosial budaya, dan lain sebagainya yang menyangkut desa ini”, jelas Plt. Kadis.

Desa Montong Terep yang sudah dinobatkan menjadi desa mandiri tersebut, mempunyai sumur bor dengan kedalaman 50 km, sumur bor tersebut sudah tersebar di 16 dusun yang semua anggarannya bersumber dari Dana Desa Montong Terep. Sumur bor tersebut bukan hanya dikelola oleh desa saja, akan tetapi juga melibatkan pemuda desa tersebut untuk mengelolanya.

“Sebenarnya tidak ada permasalahan serius di desa kami, karena semua permasalahan hampir bisa tercover dengan baik oleh kami selaku aparat desa. Periode pertama saya menjabat sebagai Kepala desa sekitar bawah tahun 2019. Permasalahan yang paling menonjol di desa kami adalah pernikahan dini, bahkan parahnya pada tahun tersebut pernikahan dini banyak terjadi di kalangan anak-anak bangku Sekolah Dasar”, jelas Kades.

Plt. Kadis Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi NTB membenarkan pernyataan dari Kepala Desa Montong Terep, jika pernikahan dini kerap terjadi di daerah kita. Hal tersebut terjadi akibat semakin canggihnya teknologi masa kini. Semua anak-anak di berbagai kalangan sekolah sekarang sudah mempunyai ponsel pribadi, yang membuat anak-anak menggunakan ponsel tersebut untuk hal-hal yang cenderung ke arah negatif.

Kepala Desa juga menjelaskan jika kantor desa ini sangat dekat dengan beberapa sekolah dasar, sehingga Kepala Desa berinisiatif untuk mendirikan perpustakaan desa agar anak-anak dari kalangan sekolah dasar mulai saat ini bisa lebih memanfaatkan waktu mereka ke arah yang positif.

“Mengingat minat baca masyarakat semakin kesini semakin rendah, kami berupaya untuk mendirikan perpustakaan desa, yang kalua bisa ke arah perpustakaan digital. Melihat masyarakat dari berbagai kalangan Sebagian besar mempunyai Gadget, maka kami berharap bisa menambah minat baca masyarakat melalui perpustakaan digital tersebut”, ucap Kades.

Dinas Perpustakaan dan Kearsipan sendiri memang sudah mempunyai Program Perpustakaan Digital yang berbentuk Aplikasi dengan nama NTB Elektronik Library, sehingga semua masyarakat bisa mengakses berbagai literasi digital melalui aplikasi tersebut.

“Perlu diketahui, jika suatu desa ingin mendirikan sebuah perpustakaan dengan standar nasional, maka desa tersebut harus jelas struktur organisasinya, memiliki literasi minimal 1.000 buku, dan yang paling terpenting adalah alokasi anggaran rutin khusus setiap tahun untuk perpustakaan, baik untuk pembelian bahan bacaan maupun operasional Perpustakaan, termasuk untuk Honor Pengelola Perpustakaan yang non ASN. Sehingga desa tersebut akan lebih mudah mendapatkan bantuan serta pembinaan”, tegas Plt. Kadis.

Disisi lain Plt. Kadis turut hadir juga dalam peresmian nama jalan yakni mulai dari Bundaran Selaparang Tembolak Patung Sapi Lombok Barat disebut dengan Jalan Ruslan Cakra Ningrat, lalu Patung Sapi sampai Bandara Internasional Lombok (BIL) disebut Jalan Wasita Kusuma, dan jalan baru yang sepanjang 17 km menuju arah Kuta disebut Jalan Gatot Suherman.

“Adanya penamaan jalan menurut saya itu adalah hal yang harus dilakukan oleh pemerintah, untuk memudahkan masyarakat mengenal lokasi, petunjuk, arah. Pemberian nama jalan tentu ada pertimbangannya, misalnya dengan nama seseorang karena ketokohannya, jasa-jasanya, atau kepahlawanannya. Kita tahu bahwa nama yang disematkan pada jalan bypass adalah nama-nama mantan Gubernur NTB yang pada masanya sangat berjasa untuk NTB, salah satunya Pak H. Gatot Suherman dengan program Gogo Rancahnya yang sangat sukses hingga NTB pada masa itu dari kekurangan pangan menjadi daerah yang Swasembada Beras”, jelas Plt. Kadis.

Alangkah baiknya seluruh dokumen penetapan nama jalan ini seperti SK Penetapan, dan dokumen pendukungnya diserahkan ke Dinas Perpustakaan dan Kearsipan sebagai arsip Statis. (des/w-007)