Daerah  

Mangku Rena Ingin Satukan PHDI NTB melalui Lokasabha Luar Biasa

Pjs. Ketua Harian PHDI NTB Pinandita Komang Rena
banner 120x600

Wordly.id | NTB – Kisruh dan atau sengkarut di tubuh Parisada Hindu Dharma Indonesia atau PHDI, terus berlanjut dan kian memanas tak terkecuali PHDI Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB). Kondisi tersebut menjadi perhatian khusus Pjs. Ketua Harian PHDI NTB I Komang Rena, untuk menyatukan kembali segenap unsur dan tokoh Hindu yang membelit PHDI NTB.

Ditemui pasca gelaran Mahasabha XII Perhimpunan Pemuda Hindu (Peradah) Indonesia, Selasa (22/3/2022) malam, Pjs. Ketua Harian PHDI NTB sapaan Pinandita Mangku Rena menyampaikan keinginannya, untuk mempersatukan dan merekat serta mengurai kembali benang kusut yang menjadi sengkarut di tubuh PHDI NTB.

“Seperti pesan moral yang disampaikan Ketua Umum Peradah Indonesia yang merupakan anak-anak kita, persoalan atau permasalahan yang terjadi harus segera diselesaikan dan diakhiri. Persoalan yang ada di PHDI Pusat biar diselesaikan di tingkatan Pusat, sementara permasalahan di PHDI NTB mari kita selesaikan di internal kita,” ungkapnya.

Baca juga:

Peradah Indonesia Sampaikan Pesan Moral untuk Sengkarut PHDI

Dikatakan, Surat Keputusan (SK) PHDI Pusat yang mengangkat dirinya selaku Pejabat Sementara (Pjs) Ketua Harian PHDI NTB, bukan SK Pergantian Antar Waktu (PAW) dan bukan pula SK pengalihan jabatan (tetap) Ketua Harian PHDI NTB.

“Itu adalah SK pengangkatan sebagai Pjs. Catat ini pejabat sementara bukan ketua harian tetap. Pjs Ketua Harian PHDI NTB sesuai SK itu bertugas mengantarkan terlaksananya Lokasabha Luar Biasa, untuk memilih ketua harian dan pengurus baru PHDI NTB,” jelas Pinandita Mangku.

Dijelaskan, dalam Lokhasabha Luar Biasa itu nantinya semua pihak terkait berkumpul, dimana sesuai dengan namanya yakni Lokasabha (Musayawarah Daerah/Musda) para pihak akan bermusyawarah dan atau berdiskusi, untuk membentuk kepengurusan PHDI NTB dengan tetap berpedoman pada anggaran dasar dan anggaran rumah tangga (AD/ART).

“Kita akan undang semua, kita akan bermusawarah dan berdiskusi demi kepentingan Parisada untuk melayani umat. Ini niat tulus dan merupakan amanat yang diembankan ke saya. Jadi, sekarang yang urgen menurut saya adalah kita persiapkan bahan atau materi untuk berdiskusi dan berargumen, bukan kita bicara semau kita melalui medsos (media sosial, red) yang bisa semakin memperkeruh suasana,” tandas Mangku Rena.

Pihaknya mengajak segenap unsur umat Hindu di NTB untuk cerdas dan cermat, dalam menyikapi kisruh yang terjadi dengan membedakan polemik PHDI Pusat dan PHDI NTB.

“Kalau PHDI Pusat itu persoalannya lebih kepada permasalahan cara pengambilan keputusan dan kebijakan, dimana di PHDI menganut kolektif kolegial, keputusan didasarkan pada hasil musyawarah bersama yang melibatkan para pihak,” jelasnya.

Sementara PHDI NTB, lanjutnya, polemik yang terjadi menyangkut Tri Kaya Parisudha, yang merupakan bagian dari ajaran susila dalam tiga kerangka dasar agama Hindu. Dimana di dalamnya terdiri dari tiga bagian yakni Manacika Parisudha, Wacika Parisudha dan Kayika Parisudha.

Manacika Parisudha adalah berfikir yang baik, Wacika Parisudha berarti berkata yang baik dan Kayika Parisudha yang artinya berprilaku yang baik. Nah, kalau tiga susila ini menjadi asusila atau dilanggar, maka penganut Hindu sudah tidak pantas menjadi Parisada,” tegasnya.

Karena itu, Pinandita Mangku Rena yang saat ini tengah mempersiapkan pelaksanaan Lokasabha Luar Biasa PHDI NTB, akan sangat menyayangkan jika para pihak nantinya tidak hadir dalam pelaksanaannya.

“Nah, saya akan sangat menyayangkan jika nanti teman-teman PHDI, tidak menghadiri Lokasabha Luar Biasa itu. Perkara siapa yang terpilih nantinya, itu merupakan keputusan bersama. Tugas saya hanya mengantarkan dengan tujuan mempersatukan kembali yang terserak, menata yang tercerai dan meluruskan benang Tri Kaya Parisudha yang kusut,” tuturnya. (Ang/w-005)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *