Daerah  

Migrasi TV Analog ke Digital, ini Kata Warga Kota Mataram NTB

HL. Sofyar Putrangga (kanan), dr. Nurman Himallah (tengah) dan Dr. Juniawan (kiri)
banner 120x600

Wordly.id | NTB – Sehari pasca pelaksanaan Bimbingan Teknis (Bimtek) Journalist Fellowship Media Online oleh Ditjen Informasi dan Komunikasi Publik Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkomino) RI, terkait migrasi TV analog ke TV digital yang selanjutnya dipublikasikan melalui portal media masing-masing peserta mendapat berbagai tanggapan dari masyarakat.

Beberapa warga Kota Mataram Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) yang dikonfirmasi wordly.id sangat mengapresiasi upaya pemerintah tersebut, lebih-lebih dengan adanya bantuan Set Top Box (STB) TV digital gratis untuk keluarga miskin.

Baca juga:

Kemenkominfo RI Gencar Sosialisasi Migrasi TV Analog ke Digital

Kenapa Perlu Migrasi ke TV Digital? Ini Kata Staf Khusus Menkominfo

dr. Nurman Hikmatullah yang tinggal di Dasan Agung Kota Mataram sangat mengapresiasi dan menantikan siaran TV digital, karena dirinya sudah ingin sekali melihat siaran TV yang kualitasnya bagus, tajam, bersih dan suara jernih.

“Melihat perkembangan teknologi, kualitas gambar dan suara yang dihasilkan pastinya jelas akan lebih baik. Untukitu saya mau membuktikan kalau sudah ada jaringannya di Lombok,” ungkapnya.

“Terkait STB TV digital gratis untuk keluarga miskin, alhamdulillah, saya sangat mendukung dengan teknik by name by adress yang diterapkan. Bagus sekali karena bisa memotong birokrasi distribusi dan insya Allah masyarakat akan lebih enak,” katanya.

“Ampure (bahasa Sasak maaf, red), saya jadi su’uzhan (bahasa Arab prasangka buruk, red) sama birokrasi. Tapi itulah kenyataan, karena sekali lagi ampure, kalau lewat birokrasi atau aparat banyak kepentingan yang bermain,” imbuhnya.

Senada, HL. Sofyar Putrangga, S.H. yang tinggal di Dasan Agung Muhajirin Kota Mataram yang juga Ketua Paseban Sasak Adi (PASAKA) mengatakan, perkembangan jaman khususnya bidang teknologi informasi saat ini masyarakat lebih memilih yang praktis.

“Sesuai dengan kondisi dan perkembangan jaman, orang lebih milih digital karena lebih praktis waktu, tempat dan kebutuhan,” ujarnya.

Menurutnya, untuk menunjang migrasi TV analog ke digital STB sangat diperlukan masyarakat, dimana informasi mengenai dunia luar di satu sisi sudah tidak terbatas. Dengan adanya STB yang digratiskan untuk keluarga miskin, pihaknya sangat mengapresiasi karena akan dapat membantu warga miskin mengakses berbagai informasi sesuai kebutuhan tanpa terikat lagi dengan fakor ruang dan waktu.

“Sangat bagus. Banyak hal-hal positif yang bisa diperoleh dari adanya migrasi tv digital. Lebih-lebih sesuai berita di wordly.id bahwa selain STB gratis untuk keluarga miskin dan distribusinya by name by adress. Ini dapat menghapus sekat-sekat birokrasi yang selama ini ada, sehingga langsung dinikmati oleh masyarakat sesuai keperluan tanpa biaya lagi,” tandas L. Sofyar.

“Semoga tv digital dapat meningkatkan kualitas masyarakat ke depan,” tutupnya.

Sementara salah seorang putra Lombok, NTB Dr. Juniawan yang saat ini berkarir di Kota Malang, Jawa Timur setelah membaca informasi migrasi TV analog ke digital di portal wordly.id, melalui WhatsApp (WA) menyampaikan ke redaksi bahwa di rumahnya telah menggunakan TV digital.

“Memang beda jauh kualitas antara TV analog dengan TV digital, di rumah saya sudah pakai digital,” tulisnya melalui pesan singkat WhatsApp.

Lebih lanjut doktor di bidang pertanian itu menyampaikan bahwa untuk memperoleh kualitas gambar dan suara TV digital yang bagus, masyarakat juga perlu menyesuaikan perangkat elektronik (televisi)nya.

“Ini juga harus dipahami oleh masyarakat, bahwa meskipun sudah beralih ke TV digital, tapi kalau TV-nya masih jadul, maka gambar tidak bisa maksimal,” tulisnya.

Fenomena migrasi TV analog ke TV digital ini juga ditanggapi serius oleh sebagian warga Kota Mataram lainnya. Setelah mendapat informasi bahwa peralihan ke TV digital terakhir bulan Noveber 2022, warga mulai gencar mencari perangkat (piranti) migrasi V analog ke TV digital.

Hal itu diketahui melalui beberapa grup WhatsApp, yang anggotanya berdiskusi dan menanyakan dimana bisa mendapakan STB TV digital.

Untuk diketahui, siaran televisi digital menggunakan modulasi sinyal digital dan sistem kompresi akan menghadirkan kualitas gambar yang lebih bersih, suara yang lebih jernih dan canggih teknologinya bagi masyarakat Indonesia.

Dalam masa peralihan ke siaran televisi digital masyarakat tetap dapat menonton siaran televisi analog, namun sangat dianjurkan untuk mulai merubah tangkapan sinyal antena di rumah dari siaran analog ke digital.

Penyelenggara multipleksing (Mux) dipastikan berkomitmen untuk memberi bantuan set top box (STB) bagi rumah tangga miskin (RTM) di empat kawasan Lombok, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB).

Direktur Tata Kelola dan Kemitraan Komunikasi Publik (TKKKP) Direktorat Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik Kemenkominfo Hasyim Gautama, dalam Diskusi Publik Virtual: Sosialisasi Analog Switch Off (ASO) Kemenkominfo bersama Komisi I DPR RI yang berlangsung secara hibrid beberapa waktu lalu mengatakan, bantuan STB diberikan agar seluruh masyarakat di empat kawasan yakni Kota Mataram, Kabupaten Lombok Tengah, Lombok Barat dan Kabupaten Lombok Timur dapat menerima siaran televisi digital pada saat dilakukanmigrasi atau Analog Switch Off (ASO) tahap 1 pada 30 April 2022.

“Rumah Tangga Miskin atau RTM akan mendapatkan bantuan STB gratis dari penyelenggara Mux, baik berasal dari Lembaga Penyiaran Publik atau LPP maupun Lembaga Penyiaran Swasta atau LPS,” tuturnya.

Dijelaskan, masyarakat khususnya RTM di Provinsi NTB diimbau tidak perlu khawatir jika tidak mendapat STB dari penyelenggara Mux karena penyediaannya akan dibantu oleh pemerintah. Sedangkan untuk masyarakat yang tidak termasuk RTM, diharapkan bisa segera membeli STB di toko elektronik terdekat atau jika sudah memiliki TV digital tidak memerlukan perangkat tersebut.

“Dalam hal penyediaan alat bantu penerimaan siaran atau STB tidak mencukupi, maka dapat berasal dari Pemerintah sesuai PP 46 Tahun 2021,” ucapnya.

Lebih lanjut Hasyim menjelaskan, masyarakat yang telah memiliki pesawat TV digital dapat melakukan scanning (pindai) ulang program siaran untuk menerima siaran TV digital. Pesawat televisi yang telah ada tuner standar DVBT2 di dalamnya secara otomatis dapat menangkap dan menayangkan program-program siaran TV Digital. Namun, setelah melakukan pindai ulang program dan siaran yang ada di televisi masih sama dengan sebelumnya, berarti pesawat TV yang dimiliki masih analog.

“Ingat, siaran TV digital itu gambarnya benar-benar bersih dan suaranya canggih. Jadi bila gambarnya masih sama dengan sebelumnya, bisa dipastikan siaran TV digital belum tertangkap,” sebutnya.

“Pastikan saat membeli STB atau pesawat televisi digital ada keterangan produk telah tersertifikasi Kementerian Kominfo. Tanda sertifikasi memberikan jaminan kesesuaian teknologi, spesifikasi teknis dan keamanannya,” pungkasnya.

Untuk memudahkan menemukan informasi terkait migrasi TV analog ke TV digital dan informasi terkait digitalisasi pertelevisian Indonesia, dapat mengakses website resmi Kemenkominfo. (Djr/w-001)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *