Daerah  

Perang Topat jadi Bukti Toleransi Masyarakat Lombok

Gubernur NTB-Perang Topat
Gubernur NTB saat akan melempar topat sebagai tanda dimulainya ritual perang topat
banner 120x600

Wordly.id|Lombok Barat – Bersama ribuan warga Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), ritual perayaan Pujawali dan Perang Topat di Pura Lingsar di Kabupaten Lombok Barat, Senin (27/11/2023), tak hanya sekadar perayaan tetapi juga menjadi simbol toleransi antara komunitas Hindu dan Islam di wilayah NTB.

Penjabat (Pj) Gubernur NTB Drs. HL. Gita Ariadi, M.Si., dalam sambutannya mengajak masyarakat merasakan momen perang topat, untuk mempererat tali persaudaraan dan menanamkan nilai-nilai toleransi.

“Perang ketupat, pujawali bukan sekadar upacara tahunan, melainkan kesempatan untuk menyemarakkan semangat toleransi dalam pembangunan wilayah dan negara,” ungkapnya.

Melalui momen perang topat tersebut, Pj. Gubernur NTB sapaan akrab Mamiq Gita itu mengajak segenap masyarakat NTB, untuk mensukseskan pesta demokrasi pemilihan umum (pemilu) presiden dan wakil presiden serta pemilu legislatif tahun 2024.

“Jangan hanya gara-gara beda aspirasi, beda pilihan, dijadikan sumber konflik yang menimbulkan perpecahan,” ujarnya.

Sementara Bupati Lombok Barat Hj. Sumiatun menegaskan jika perang topat bagian dari tradisi budaya tahunan masyarakat Sasak-Lombok, diadakan sebagai ungkapan syukur atas hasil panen.

“Ritual ini dimulai dengan kemaliq di Pura Lingsar, laku diikuti oleh saling lempar ketupat antara umat Hindu dan Muslim, sebagai simbol toleransi dan pluralisme,” katanya.

Ditemui di sela ritual pujawali dan perang topat, Ketua Panitia Anak Agung Ketut Agung Oka Kartha Wirya menjelaskan jiks Kemaliq Perang Topat sebagai bagian tak terpisahkan dari rangkaian pujawali di Pura Lingsar.

“Prosesi melibatkan umat Hindu dalam persiapan, maturan ayunan hingga persembahyangan bersama,” tuturnya.

Sedangkan Sekretaris Panitia I Made Putra Usahada yang mendampingi ketua panitia, menyampaikan kebahagiaannya atas keberhasilan acara tersebut.

“Kesatuan masyarakat beragama dalam satu acara, merupakan contoh yang harus kita jaga,” ucapnya.

Untuk diketahui, semangat toleransi dan keharmonisan antar umat beragama di Pulau Lombok, menjadi atensi yang terus digaungkan dan dijaga segenap elemen Pulau 1000 Masjid-Lombok, hal itu tercermin melalui kemeriahan Pujawali dan Perang Topat di Pura Lingsar, yang berhasil menunjukkan kebersamaan dan keindahan dalam perbedaan. (ang/w-005)

Perang Topat-Lingsar
Dari kiri: Toma muslim, Gubernur NTB, Bupati Lombok Barat, Ketua Panitia, Sekretaris Panitia dan istri Gubernur NTB