Gunanta “Kuliti” Terdakwa Kasus ITE Made Santi

Saksi pelapor Gede Gunanta (kiri depan) dan suasana sidang kasus ITE denga terdakwa Made Santhi di PN Mataram
banner 120x600

Wordly.id|NTB – Gede Gunanta alias GG “menguliti” terdakwa Ida Made Santhi Adnya, S.H. di depan Majelis Hakim Pengadilan Negeri (PN) Mataram, Kamis (6/10/2022), yang mengadili kasus pelanggaran ITE (Informasi dan Transaksi Elektronik) dengan agenda sidang pemeriksaan saksi.

Di depan sidang yang dipimpin Ketua Majelis Hakim Muslih Harsono, S.H., didampingi Hakim Anggota Hiras Sitanggang, S.H. dan Mahyudin Igo, S.H. pemilik nama lengkap I Gede Gunanta, A.Pi., S.H. yang dihadirkan Jaksa Penuntut Umum (JPU), membongkar tuntas kerugian yang diakibatkan postingan terdakwa Made Santhi di akun facebook (fb) pribadi terdakwa.

“Saya merasa sangat dirugikan dengan postingan terdakwa, dimana dalam unggahan tersebut seolah terdakwa adalah pemilik tunggal Hotel Bidari untuk lelang dan menjual. Padahal, objek Hotel Bidari merupakan harta bersama saya dan mantan istri saya,” ungkapnya.

Baca juga:

Majelis Hakim Tolak Eksepsi Terdakwa Kasus ITE

Eksepsi Terdakwa Kasus ITE Ditolak, Dua Kubu Panas-Dingin

Pesan Bijak Gede Gunanta untuk Para Advokat

Namun demikian, setelah pekan lalu memberi pesan arif melalui media kepada 150 advokat (pengacara), yang mendampingi sebagai penasehat Hukum (PH) terdakwa Made Santhi, sapaan GG itu kembali menunjukkan kepribadian dan jiwa humanisnya, dengan mendoakan untuk kesehatan terdakwa.

“Izinkan saya mengucapkan salam dan doa, semoga kita semua yang hadir diberi kesehatan, majelis hakim, penuntut umum juga terdakwa dan para penasehat hukumnya,” ucap GG.

Melanjutkan kesaksian sekaligus mementahkan pertanyan dan pernyataan PH terdakwa, bahwa Hotel Bidari termasuk objek sita yang dapat dilelang. GG dengan tegas mengatakan bahwa terkait Hotel Bidari harus mengacu pada putusan Pengadilan Tinggi NTB,

“Hotel Bidari masih masuk dalam agunan perbankan. Pengadilan Tinggi NTB menyatakan objek yang masih dalam hak tanggungan tersebut tidak bisa dilelang,” tandasnya.

Selain itu, Gunanta selaku saksi pelapor juga menyampaikan bahwa Hotel Bidari yang dijadikan obyek postingan, oleh terdakwa Made Santhi yang berprofesi sebagai advokat dan Ketua PHDI NTB itu, telah ada perjanjian dan atau kesepakatan dengan mantan istrinya I Nengah Suciari.

“Ini untuk anak-anak kami dan perjanjian sebelum bercerai, itupun diketahui pihak keluarga masing-masing, disaksikan aparat kelurahan dan juga ada anak buah terdakwa dari PHDI Cakranegara,” tuturnya.

“Terdakwa sebagai pimpinan tertinggi umat (Hindu, red), saya rasa juga paham masalah ini,” imbuh GG.

Dalam sidang yang dihadiri terdakwa Made Santhi dan 11 PH dari 115 advokat pendamping terdakwa, kepada majelis hakim Gunanta juga menjelaskan bahwa hubungan dirinya dengan mantan istrinya, masih terjalin hubungan sosial yang harmonis demi anak-anak mereka.

“Saya juga menanggung cicilan kreditnya Rp. 48 juta per bulan,” ujarnya lugas.

Selain itu, dalam persidangan yang di kursi pengunjung sidang terlihat puluhan advokat pendaping terdakwa yang tergabung dalam Advokat NTB Bersatu, Gunanta selaku saksi korban dengan retorika lugas membeberkan postingan terdakwa, dimana postingan di status beranda fb berupa foto disertai narasi bertuliskan “Beginilah kondisi Hotel Bidari yang akan dilelang, bagi yang berminat hubungi saya”, yang mendapat tanggapan dari pembaca yang berteman di fb dengan terdakwa.

“Ada komentar di postingan itu berujar siap bos, kemudian dijawab oleh IMS oke kita ketemu di tempat yang nyaman untuk nego,” tutur Gunanta.

“Ini seolah terdakwa bertindak sebagai pemilik Hotel Bidari,” sentil GG.

Memperkuat dakwaan JPU, Gunanta juga menandaskan bahwa postingan terdakwa berdampak terhadap kerugian Hotel Bidari yang dimilikinya, terlebih dokumen Surat Lelang yang diterbitkan Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang (KPKNL) Mataram, yang dimuat dalam postingan telah kadaluarsa.

Menurut Gunanta, sebagai dampak adanya postingan terdakwa Made Santhi itu pihaknya dikerugikan, yang salah satunya adalah operasional Lembaga Pendidikan dan Pelatihan Bidari Tourism College (LPP-BTC), yang dirintis sebagai upaya Hotel Bidari keluar dari keterpurukan pasca gempa 2018 dan pandemi Covid-19.

”Kerugian akibat putusnya kontrak BTC dengan mitra tinggal dihitung saja, 700 kali Rp 12,5 juta dikali 5 tahun,” ucapnya.

Dari pantauan media diketahui bahwa seperti sidang-sidang sebelumnya, sidang kelima kasus ITE dengan terdakwa Made Santhi pun tampak loyalis Gede Gunanta (GG) menghadiri persidangan. Selain duduk di kursi pengunjung ruang sidang, puluhan loyalis GG terlihat standby di ruang tunggu dan luar gedung PN Mataram. (Djr/w-001)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *