Saksi Fakta “Telanjangi” Terdakwa Kasus ITE

Sidang ketujuh kasus ITE di PN Mataram dan saksi fakta Ida Bagus Cakrabawa (depan kiri)
banner 120x600

Wordly.id|NTB – Persidangan kasus Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) di Pengadilan Negeri (PN) Mataram, Kamis (27/10/2022), dengan terdakwa Ida Made Santi Adnya memasuki sidang ketujuh dengan agenda pemeriksaan saksi fakta yang diajukan Jaksa Penuntut Umum (JPU). Dalam persidangan tersebut saksi fakta “telanjangi” terdakwa kasus ITE.

Saksi dari Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang (KPKNL) Zulkifli dalam kesaksiannya mengatakan, dalam jabatannya selaku Kepala Seksi (Kasi) Hukum dan Informasi merangkap Kasi Lelang, saat terdakwa Made Santi mengunggah lelang Bidari Hotel & Lounge di akun facebook (fb) pribadinya, lelang telah berlangsung (berakhir) alias kadaluarsa.

“Apabila ingin mengajukan lelang terhadap objek yang belum laku, Pengadilan Negeri sebagai pemohon lelang harus mengajukan permohonan baru, dengan melengkapi semua persyaratan seperti halnya saat pelelangan pertama,” jelasnya.

Sedangkan terkait unggahan terdakwa ITE Made Santi di status fb pribadinya, yang kemudian mendapat respon dari beberapa orang teman fb-nya di kolom komentar, Zulkifli menegaskan bahwa saat itu pihaknya belum menerima permohonan lelang ulang dari PN Mataram.

Sementara saksi fakta kasus ITE yang diajukan JPU lainnya, Hasnah dari CV. Intan Mutiara dan Ida Bagus Cakrabawa tak bergeming dicecar berbagai pertanyaan penasihat hukum (PH) terdakwa.

Kepada Majelis Hakim PN Mataram, Hasnah mengatakan bahwa pihaknya merasa dirugikan oleh adanya postingan terdakwa, mengingat CV. Intan Mutiara memiliki kerjasama dengan Bidari Hotel & Lounge.

“Saya tidak bohong Pak, saya bekerjasama sebelum Covid,” katanya.

Sedangkan terkait adanya beberapa keterangan saksi yang berubah-ubah karena dicecar PH terdakwa, majelis hakim seakan memahaminya mengingat saksi merupakan warga biasa, yang tidak memahami hukum dan baru pertama kali memberi kesaksian di muka persidangan.

Tiba saat diajukan saksi fakta ketiga, Ida Bagus Cakrabawa, saksi yang mengaku berteman di fb dengan terdakwa itu, menyampaikan bahwa dirinya sempat berkomunikasi dengan terdakwa di kolom komentar postingan.

“Saya membaca unggahannya tentang penjualan Hotel Bidari tanggal 20 Februari 2021 malam,” ujarnya.

Menurut Cakrabawa, pertanyaan dirinya di kolom komentar yang mempertanyakan kebenaran dan kondisi isi postingan terdakwa, dijawab terdakwa dengan emoticon jempol.

“A 1 nih pak untuk di jual… Masih bagus kondisinya..,” tulis akun fb Ida Bagus Cakra Bawa di kolom komentar yang dijawab “👍🏻 👍🏻 (warna kuning, red),” jawab akun terdakwa.

Di depan persidangan tersebut, Cakrabawa juga menyampaikan bahwa pihaknya merasa dirugikan oleh karena adanya postingan terdakwa. Dimana kerjasama pihaknya dengan Bidari Hotel dalam program Lembaga Pendidikan dan Pelatihan Bidari Tourism College (LPP BTC) terhenti.

Menariknya, entah karena kedua saksi fakta terakhir dinilai memberatkan, terdakwa kasus ITE Made Santi membantah atau menyangkal kalau kedua saksi (Hasnah dan Cakrabawa) berteman dengan dirinya di fb.

Penyangkalan terdakwa Made Santi itupun direspon ketus kedua saksi fakta, seraya menunjukkan bahwa penyangkalan terdakwa samasekali tidak benar.

“Saya berteman Pak, ini buktinya,” ucap Hasnah sambil menunjukkan lembaran kertas yang berisi hasil print screen shoot.

“Bohong lagi dia (terdakwa, red),” kata Cakrabawa sambil tertawa saat dikonfirmasi usai sidang.

Terpisah, dikonfirmasi terkait perjalanan sidang ketujuh kasus ITE, I Gede Gunanta alias GG selaku korban dan pelapor dengan bijak mengatakan, pihaknya berkeyakinan bahwa majelis hakim akan jeli menilai fakta-fakta persidangan.

“Kita percayakan kepada yang mulia majelis hakim. Di era kemajuan teknologi informasi saat ini, seseorang tidak bisa mengelak dari perbuatan yang dilakukan melalui internet, jejak digital itu sangat mudah ditemukan, kalau masih berani berbohong atau ngeles di hadapan majelis hakim, yang mulia majelis hakim bisa meminta bantuan Tim Cyber Crime Polri,” ungkap sapaan GG itu.

“Dengan terdakwa menyangkal komunikasi melalui facebook, saya kira yang mulia majelis hakim akan menilai bahwa hal itu sebagai adanya itikad buruk, tapi sekali lagi kita percayakan sepenuhnya kepada majelis hakim,” tutup GG.

Untuk diketahui, kemajuan teknologi informasi sering kali tidak dibarengi dengan sikap bijak pengguna, dimana pengguna terkadang tidak menyadari bahwa postingan atau unggahannya ter-record dan atau tersimpan di server provider penyelenggara aplikasi.

Pun seandainya postingan atau unggahan itu telah dihapus, dengan kecanggihan teknologi pula unggahan atau postingan itu dapat dikembalikan dan atau ditampilkan kembali jejak digitalnya. (Djr/w-001)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *