Bandar dan pemodal Harus diperbanyak di tahun 2024

banner 120x600

Wordly.id – Jawa Barat untuk menjadi besar manusia itu harus mampu menjual dirinya sendiri, jika tidak ada orang lain yang bisa membantu untuk meningkatkan elektabilitas kita

 

Pekerjaan terberat dalam diri seseorang adalah mengangkat kwalitas diri dan mempertahankan diri dari kwalitas diri itu sendiri

 

Sebenarnya diawal-awal kemerdekaan sudah banyak dicontohkan oleh para pejuang -pejuang dinegeri ini, banyak para pemuda -pemuda muncul dan mengambil peran , katakanlah semisal bung Tomo dan Sutan Syahrir dalam kancah dalam negeri

 

Dipemilu yang lalu banyak partai dan golongan yang memunculkan kader-kader mudanya untuk menarik simpati para pemilih untuk menjadikan sebagai magnet  yang tujuannya untuk membesarkan partai walaupun banyak yang berguguran, katakanlah semisal Rodli Kailani dari PAN ,samara Amani dari PSi

 

Tapi banyak pula para caleg-caleg muda yang mampu memenangkan pemilu yang telah berlalu  semisal Nanda Paloh putra Suya Paloh dari Nasdem yang digadang-gadangkan sebagai Ketum Nasdem dimasa depan, Badrut  Tamam( PKB) DPRD provinsi Jawa timur yang saat ini menjadi bupati Pamekasan,Slamet A Riyadi   (PAN ) pemuda Sampang yang mampu memenangkan pertarungan pileg dan sukses menduduki kursi DPR RI dan saat ini menjabat sebagai ketua PAN kabupaten Sampang

 

Saya sering kali melakukan diskusi -diskusi dengan banyak pihak tentang pileg dan pilpres ini dan saya banyak menemukan kenyataan-kenyataan yang sesungguhnya yang sering kali tidak banyak orang tahu

 

Bahwa Untuk menjadi DPR RI ditahun 2024 ini tidak cukup hanya bermodalkan 7 Miliar sampai 10 miliar saja atau terlalu percaya diri untuk menang karena sering pergi ke dukun -Dukun dan kemakam makam keramat

 

untuk jadi DPR RI ditahun 2024 ini paling tidak membutuhkan Uang 15 miliar sampai 25 miliar ,ini bukan angka yang sedikit Lalu dapat dari mana para caleg itu uang 15 miliar sampai 25 miliar ini kalo bukan dari bantuan para pengusaha dari para pemodal atau bandar

 

Kadang -kadang saya merasa risih dan Telinga saya ini gatal ketika ada orang berbicara anti bandar anti pemodal ,lha dia kira kita ini hidup di masa Fir’aun dan namrud atau dimasa Sulaiman alaihi salam yang memang tidak ada pemilihan, kita ini hidup di negara Demokrasi bro dimana pemilu itu selalu ditentukan oleh uang kata Saiful Bahri.

 

makanya manusia itu tidak usah munafik, karena bagaimanapun dinegara Demokrasi itu tidak akan pernah terlepas dari campur tangan para pemodal dan bandar karena kalo dinegara Demokrasi itu tidak ada pemodal dan bandar maka pemerintahan itu sendiri akan bubar dan akan beralih sistem pungkasnya saat di wawancarai.

 

Harta Jokowi itu ditahun 2014 hanya berkisar dibeberapa miliar saja sedangkan untuk biaya calon presiden itu paling tidak membutuhkan dana 7-10 triliun diwaktu itu, berbeda dengan ditahun 2024 nanti ,lalu dapat dari mana uang sebanyak itu kalo bukan dari para pemudal, oligarki atau dari para bandar.

 

dimana -mana dinegara Demokrasi Baek dinegara berkembang semisal diindonesia atau dinegara -negara barat semisal Amerika serikat di setiap pemilu tidak akan pernah lepas dari campur tangan para bandar atau para pemodal.

 

Kenapa negara Paman Sam Amerika serikat, selalu mendukung Israel dari pada Palestina karena jelas yang mendanai para calon presiden dinegera itu adalah para sekolompok elite yahudi yang masih ada nasab hubungan dengan para kaum Yahudi -yahudi di Israel

 

Jika pemerintahan ini terus ingin berjalan maka para calon harus mencari bandar sebanyak-banyaknya karena bagaimanapun relawan -relawan yang ada di bawah membutuhkan amunisi yang cukup untuk memenangkan para calonnya dan agar para relawan relawan yang ada dibawah tidak hanya berebut nasi bungkus

 

Jangan Anti terhadap bandar, dan pemodal, jika anda masih hidup di negara Demokrasi ,sekelas kepala desa dan sekelas DPRD saja para pemodal yang bermaen dan ikut cawe-cawe disana sangat banyak,itu biaya operasionalnya  hanya sekitar 1 miliar sampai 2 miliar saja apalagi yang bertriliun – triliunan ujar Anam khan.

(Sunardi lintang)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *