Kenapa Perlu Migrasi keTV Digital? Ini Kata Staf Khusus Menkominfo

banner 120x600

Wordly.id – Sejak April 2022 lalu pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) telah menghentikan siaran TV analog dan migrasi ke TV digital. Staf Khusus Menteri Kominfo Rosarita Niken Widiastuti dalam suatu kesempatan mengatakan, migrasi (peralihan) siaran TV analog ke digital dimaksudkan untuk memberikan pelayanan terbaik dan atau memuaskan publik (pemirsa TV).

“Jadi, ada dua alasan atau urgensinya dilakukan migrasi siaran TV ke digital. Pertama kepentimgan publik memperoleh siaran berkualitas dan kedua efisiensi penggunaan frekuensi,” kata Niken dilansir dari website resmi kominfo.go.id, (26/5/2022).

Menurut Niken, migrasi dari siaran TV analog ke siaran TV digital ibarat peralihan dari penggunaan TV hitam putih (black and white) ke TV berwarna (colour) di era 1980-an silam.

“Saat ini di Indonesia mayoritas siaran TV masih menggunakan sistem analog, sehingga kualitas gambar yang dihasilkan kurang bagus, terkadang pemirsa merasakan suara dan gambar tidak jernih jika tidak mendapat sinyal yang baik,” ungkapnya.

“Ini kerap terjadi ketika lokasi TV jauh dari stasiun pemancar TV,” imbuh Niken.

Niken memaparkan, dalam siaran analog satu frekuensi siaran digunakan hanya untuk satu televisi, sementara saat ini terdapat lebih dari 600 stasiun TV dengan ketersediaan frekuensi siaran terbatas.

“Berbeda dengan kebutuhan siaran TV digital, dimana satu frekuensi siaran bisa digunakan maksimal 12 stasiun TV. Dengan begitu, sisa broadband bisa dialihkan ke kebutuhan digital untuk akses internet. Pun mengingat kebutuhan masyarakat akan penggunaan internet semakin tinggi,” jelasnya.

Lebih lanjut Niken menjelaskan, Sisa frekuensi untuk kebutuhan T digital tersebut dapat dimanfaatkan untuk mendorong ekonomi digital nasional seperti program UMKM Go Digital, industri e-commerce, marketplace, dan pengembangan startup atau platform-platform digital baru.

Untuk diketahui, migrasi siaran televisi analog ke digital merupakan tindak lanjut dari Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2020, sektor Pos Telekomunikasi dan Penyiaran (Postelsiar).

Kemenkominfo mengawal pelaksanaan dari program strategis nasional ini, dari kerangka infrastruktur maupun sumber daya manusia (SDM)-nya.

Menanggapi seliweran informasi di media sosial terkait TV digital berbayar, Direktur Penyiaran Kemenkominfo Geryantika Kurnia dalam suatu kesempatan menegaskan bahwa siaran TV digital adalah gratis, dimana siarannya ditangkap menggunakan antena biasa seperti dipakai masyarakat saat ini.

“Saya ingin meluruskan, banyak masyarakat yang masih berpikir siaran TV digital itu berbayar, internet, berlangganan kabel atau satelit, pakai smart TV. Pola pikir itu salah,” tandasnya.

“Siaran TV digital gratis, tidak berbayar, menggunakan antena biasa,” tegas Gery.

Dijelaskan, apabila masyarakat masih menggunakan TV analog, itu masih dapat menerima siaran TV digital.

“Jadi, kalau masyarakat masih punya TV analog, jangan khawatir, karena masih bisa digunakan, cuma ditambah dengan dekoder atau set top box,” ungkapnya.

Diinformasikan, Kominfo akan menghentikan siaran TV analog secara bertahap, dimana target siaran TV digital mengudara di seluruh wilayah Indonesia pada 2 November 2022. (Djr/w-001)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *