Lemparan Bupati Lobar Tandai Dimulainya Perang Muslim-Hindu di Lingsar

Suasana Perang Topat sebagai bentuk toleransi beragama di Pura Lingsar (Foto: Anang/WOrdly.id)
banner 120x600

Wordly.id|Lombok Barat – Dua kubu yakni kubu muslim dan Hindu di Lingsar, Kamis (8/12/2022), telah bersiap saling menyerang dengan alat masing-masing. Sekitar pukul 17.00 Wita, lemparan pertama yang dilakukan Bupati Lombok Barat H. Fauzan Khalid, menjadi pertanda dimulainya perang kedua kubu.

Pasca lemparan pertama oleh Bupati Fauzan yang diikuti Anak Agung Ketut Agung Oka Kartha Wirya, disambut berseliweran lemparan demi lemparan dua kubu yang berperang. Di lain pihak, tim keamanan gabungan unsur TNI dan Polri baik dari Polda NTB, Polresta Mataram dan Polsek Lingsar, terus berjaga dipimpin langsung Kapolresta Mataram Kombes Pol. Mustofa, S.I.K., M.H.

Adu lempar yang terjadi terus berkecamuk, satu lemparan dibalas beberapa lemparan. Tepat jarum jam menunjukkan pukul 17.49 Wita, perang berakhir karena material berupa ketupat yang disediakan telah habis. Kedua kubu yang berperang pun saling rangkul, saling berpelukan satu sama lain sebagai bentuk kerukunan dan persatuan.

Itulah tradisi dan atau budaya “Perang Topat” di Pura Lingsar Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB), sebagai rangkaian acara Pujawali (hari jadi) Pura Lingsar, yang jatuh pada Purnama Sasih Keenam setiap tahunnya.

Bupati Lombok Barat H. Fauzan Khalid menyebutkan bahwa Perang Topat merupakan warisan budaya leluhur, yang bertujuan mengajari masyarakat untuk bersikap di tengah perbedaan.

“Perbedaan keyakinan yang telah ada sejak lama, bukan alasan untuk kita saling memisahkan diri dan bermusuhan. Akan tetapi perbedaan itu akan menjadi kuat ketika kita bersatu,” ungkapnya.

Dikatakan, leluhur kita pada masa lalu menjadikan Perang Topat sebagai ajang memupuk persatuan dan kesatuan, di tengah pluralisme suku dan agama (keyakinan) masyarakat agar dapat hidup tentram, berdampingan dengan damai.

“Perbedaan ini bukanlah bahan untuk diperdebatkan. Alhamdulillah, leluhur kita meninggalkan budaya ini, yang tentunya dapat mempererat persaudaraan, rasa saling harga menghargai itu tetap terjaga dengan baik,” katanya.

Sementara Ketua Panitia Pujawali dan Perang Topat Pura Lingsar Anak Agung Ketut Agung Oka Kertha Wirya, berharap dengan adanya pelestarian budaya Perang Topat, dapat meningkatkan kerukunan antar umat beragama khususnya di NTB dan Indonesia pada umumnya.

“Ke depan mudah-mudahan melalui tradisi ini, kerukunan umat beragama semakin baik dan acara Perang Topat ini ke depan lebih meriah,” ujarnya.

Senada dengan Bupati Lombok Barat, sapaan Anak Agung Ketut itu menjelaskan bahwa euporia Perang Topat sebagai rangkaian acara Pujawali Pura Lingsar, pada dasarnya sebagai perwujudan interaksi positif antara suku Sasak-Lombok dengan suku Bali-Lombok.

“Ini menunjukkan interaksi yang baik antara suku yang berbeda yaitu suku Sasak dan suku Bali, dimana kita secara bersama-sama melakukan ritual keagamaan baik itu peribadatan Hindu-Bali dan Islam-Sasak,” jelasnya.

Terpisah, Penglingsir Puri Agung Cakranegara Anak Agung Biarsah Haruju Amla Nagantun, melalui putra tertuanya Anak Agung Made Djelantik Agung Briang Wangsa mengatakan, pihaknya mendukung penuh pelaksanaan Pujawali dan Perang Topat Pura Lingsar, mengingat keberadaan Pura Lingsar merupakan salah satu situs sejarah peninggilan leluhurnya, Raja Dewata Agung.

“Kami pihak Puri Agung selalu mendukung bahkan terus memberikan suport baik moril maupun materiil, karena walau bagaimanapun Pura Lingsar adalah salah satu peninggalan leluhur kami,” tuturnya.

“Terima kasih kami sampaikan kepada Bapak Gubernur NTB, Bapak Bupati Lombok Barat, Bapak Kapolresta juga Dandim Mataram yang telah hadir dan memberikan dukungan. Kami juga bangga bahwa tradisi atau budaya Pujawali dan Perang Topat ini, sudah masuk dalam kalender event tahunan Kabupaten Lombok Barat,” sebut sapaan Anak Agung Made itu.

Untuk diketahui, Perang Topat merupakan salah satu budaya atau tradisi yang ada sejak dibangunnya Pura Lingsar. Dimana menurut penuturan para sepuh atau tetua di Lombok, dahulu kala Raja Dewata Agung yang memerintah di Lombok, memiliki dua orang istri yang merupakan putri dua kedatuan Sasak-Lombok yakni Dende Fatimah dan Dende Aminah.

Disebutkan, saat Raja Dewata Agung membangun puri (tempat peristirahatan) di wilayah yang saat ini dinamakan Lingsar, dibangun pula dua tempat peribadatan yakni satu untuk peribadatan Hindu Pura Gaduh Kahyangan Jagat, satu lagi Kemaliq yang diperuntukkan bagi kedua istrinya.

Setelah Puri Lingsar terbangun dengan dua tempat peribadatan tersebut, Raja Dewata Agung dan kedua istrinya pun melaksanakan ritual keagamaan masing-masing diikuti para punggawa dan dayang. Usai pelaksanaan ritual peribadatan itulah, sebagai bentuk syukur bahwa penganut dua keyakinan yang berbeda dilaksanakan di satu area yang sama, terjadilah lempar-melempar sebagai wujud kegembiraan, yang diawali lemparan pertama oleh Raja Dewata Agung kepada kedua istrinya (Dende Fatimah dan Dende Aminah). (Ang/w-005)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *