Dewan Sumut Desak PBB Pastikan Status Pengungsi Afganistan

Pengungsi Afganistan di tenda pengungsian Kota Medan
banner 120x600

Wordly.id | Sumut – Ketua Komisi A DPRD Sumatera Utara Hendro Susanto, mendesak Komisi Tinggi PBB untuk Pengungsi (United Nations High Commissioner for Refugees/UNHCR), agar memberi kepastian terhadap nasib para pengungsi asal Afghanistan.

Hal itu diungkapkan Anggota Dewan Sumatera Utara (Sumut) dari Fraksi PKS, Selasa (21/12/2021), menyikapi pengungsi Afganistan yang ada di Kota Medan, Sumut (Indonesia). Dimana menurut Hendro, mereka hanya tinggal sementara di Indonesia, sebelum ditempatkan di negara ketiga (resettlement).

“Pengungsi Afghanistan perlu diberikan kepastian statusnya oleh UNHCR Indonesia, karena sudah berada di negara ini cukup lama,” kata Hendro.

Hendro menegaskan, saat ini Indonesia hanya berstatus negara transit bagi pengungsi dari luar negeri, padahal para pengungsi membutuhkan negara permanen bagi kelangsungan hidupnya.

“Baiknya Pemerintah Kota Medan, Pemerintah Provinsi (Sumut, red) kita dan Pemerintah Pusat dalam hal ini Menko Polhukam,” tandasnya.

Menteri Dalam Negeri (Mendagri), lanjut Hendro, sesuai Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 125 Tahun 2016 tentang Penanganan Pengungsi.

“Badan PBB untuk urusan pengungsi atau UNHCR harus kooperatif dan secepatnya mengambil sikap,” tegas Hendro.

Selain itu, Hendro berharap pemerintah Indonesia tidak mendiamkan berlarut-larut, karena menyangkut kehidupan para pengungsi.

“Penting juga peran pemerintah untuk memberikan win-win solution, terutama bisa mendorong UNHCR mempercepat pengadaan negara tujuan untuk para pengungsi tersebut,” ujarnya.

“Mereka kan juga manusia yang kita mesti memanusiakan manusia. Jika itu terjadi kepada kita, apakah kita juga tidak membutuhkan bantuan?,” imbuhya.

Diketahui, selama bertahun-tahun tinggal sementara di Indonesia, para pengungsi asal Afghanistan merasa stress. Bahkan, beberapa di antaranya memilih mengakhiri hidupnya.

Salah seorang pengungsi Afghanistan bernama Muhammad mengatakan, hingga saat ini banyak warga negara Afganistan telah 12 tahun lebih tinggal di Indonesia.

“Termasuk di Medan. Kami sudah beberapa kali melakukan aksi damai, namun tak ada yang mendengar dan memberi solusi. Sudah kurang lebih dua puluh rekan senegara saya, yang memilih bunuh diri di Indonesia,” tuturnya.

“Musababnya, mereka stress tak kunjung ditempatkan ke negara ketiga, sedangkan di Indonesia mereka tak bisa memenuhi hak-hak dasarnya,” sambung Muhammad.

Menurut Muhammad, sebagai pengungsi pihaknya tidak dapat diterima bekerja dan anak-anak mereka tidak mendapat hak dasar untuk sekolah.

“Kami hanya diberi uang perbulan, itu bervariasi sekitar satu juta lima ratus ribu rupiah, ada yang satu juta, anak-anak hanya lima ratus ribu. Itu untuk bertahan hidup,” ucapnya.

“Bahkan kita sangat sulit tinggal di sini selama kurang lebih sudah 12 tahun,” pungkasnya. (Netty/w-010)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *